Nama Abdul Somad menjadi perbincangan
publik. Lelaki muda Riau ini menjadi
salah satu fenemona dalam gerakan Islam Indonesia kontemporer. Menurut Pakar
Sejarah Islam Moeflich Hasbullah, sosok Abdul Somad berwatak keras, bersuara
lantang, ucapannya tegas, dan wawasan keislamannya luas. Ustadz Abdul Somad
menguasai sumber-sumber klasik Islam atau kitab kuning sebagai sumber keilmuan
dakwahnya.
Ustadz Abdul Somad menjadi sosok yang
mengundang rasa penasaran banyak orang. Satu sisi dirindukan jutaan pemirsa
atau jamaah di seluruh Indonesia. Juga, banyak undangan dari luar negeri.
Tetapi, di sisi lain, Ustadz Abdul Somad banyak menuai kontroversi. Banyak
hadangan dari beberapa kelompok masyarakat. Kalimatnya yang blak-blakan dan berani dalam menganalisa
tipe pemimpin negeri ini sungguh membuat merah kuping beberapa kalangan. Tetapi,
demi kemaslahatan umat, beliau tetap teguh untuk menyampaikan ceramahnya.
Ada pepatah, semakin dihadang maka semakin
dicintai publik. Ya, sosok Ustadz Abdul Somad salah satunya. Beliau tak gentar
menghadapi segala hadangan dan rintangan yang menghambat ceramahnya ke arah
kebaikan. Umat semakin merindukan ceramahnya yang aktual dan sesuai dengan
kondisi terkini. Tidak salah jika Ustadz Abdul Somad dikenal sebagai seorang
pendakwah dan ulama Indonesia apa adanya. Tidak dibuat-buat dan berbicara
ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling.
Sebenarnya penulis sangat mengapresiasi dan
sangat menyukai ceraah-ceramah Ustadz Abdul Somad, namun penulis menyayangkan
perumpamaan contoh yang beliau utarakan dalam salah satu ceramahnya. Setuju akan
pendapat salah satu artikel di internet “Bukan hanya catur, whatapps pun bisa
haram jika..”, artikel ini menjelaskan bahwa Seiring pernyataannya tentang
catur haram, Ustad Abdul Shomad atau UAS inipun kini kembali memantik
kontroversi publik. Menteri Agama (Menag) karena hanya membuat malu saja.
Bahkan Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) menyayangkan pernyataan UAS
tersebut. UAS menilai bahwa catur itu haram karena menyebabkan orang melalaikan
sholat. Hal ini dilandasi oleh pandangan bahwa permainan catur bisa memakan
waktu hingga berjam-jam lamanya.
Apabila dalil yang dikedepankan adalah
tentang potensi membuat seseorang melalaikan ibadah sholat, maka sayogyanya
bukan hanya catur saja yang mendapatkan label "haram". WhatsApp,
youtube, facbeook, twitter, game, dan lain sebagainya juga bisa menjadi haram
karena memiliki potensi serupa. Betapa banyak orang yang asyik berlama-lama
menikmati youtube hingga lupa waktu sholatnya. Sangat sering kita lihat muda
mudi duduk santai membaca chat pada aplikasi WhatsApp miliknya sedangkan tidak
jauh darinya suara adzan berkumandang. Bukan
caturnya yang haram, bukan pula aplikasi WA, bukan juga youtube, facebook, dan
lain sebagainya. Sikap dan perilaku kita dalam mempergunakan adalah masalah
utamanya. Catur, WA, youtube, dan
lain-lain bisa kita ibaratkan sebagai sebilah pisau. Pisau bisa dipakai untuk
menyiapkan masakan pun bisa dipakai untuk melukai orang, tergantung yang
mempergunakannya. Apakah pisaunya salah ketika ia dipakai untuk menyakiti
seseorang? Tidak. Pisau tidak salah, yang salah adalah yang menyalahgunakan
pisau itu. Demikian juga catur tidak salah dan tidak layak dilabeli haram
karena yang bermasalah adalah orang-orang yang mempergunakannya.
Hedonisme (pandangan bahwa kesenangan atau
kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia) dalam kehidupan
masyarakat modern semakin tak terkendalikan, semuanya berusaha mengejar
kekayaan, uang dan kekuasaan untuk memuaskan sikap hedonismenya dalam hidup.
Manusia memang memiliki sifat yang berbeda-beda. Namun salah satu sifat yang
tidak baik adalah berlebihan. Banyak orang yang bersifat berlebihan sehingga
selalu merasa tidak puas dengan apa saja yang sudah dia kerjakan atau dia
miliki.
Mau bermain catur atau tidak, yang
terpenting adalah terus memperbaiki kualitas iman masing-masing. Terkadang kita
merasa begitu peduli dengan pernyataan halal haram padahal kita tidak memiliki
keterlibatan secara langsung didalamnya. Misalnya seperti kontrovesi catur
haram ini. Padahal aspek lain yang jauh lebih penting seperti kualitas sholat
kita, intensitas mengaji kita, sedekah kita, dan beberapa hal lain masih seringkali
kita abaikan. Lantas mengapa itu tidak kita tanyakan kembali pada diri kita
masing-masing?
Jangan kita sekadar menjadi "pemandu
sorak" dalam agama. Catur diperdebatkan haram, sholat subuh diperdebatkan
pakai qunut atau tidak, sholat tarawih dengan 8 atau 20 rakaat. Jika memang
hal-hal itu masih menjadi perbedaan diantara para ulama maka sah-sah saja kita
yang awam ini mengikuti salah satu paham ulama yang ada. Maka mari hentikan
polemik catur haram ini dan kita urusi hal lain yang jauh lebih bermanfaat.